Thursday, April 14, 2016

CHAIRIL YANG ANGKUH

Chairil Anwar lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Ayahnya bernama Tulus dan ibunya bernama Saleha; keduanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Chairil adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia bersekolah di HIS (Sekolah Dasar jaman Belanda) di Medan. Setelah itu ia melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) namun hanya sampai kelas satu (Pamusuk Eneste, Mengenal Chairil Anwar, Penerbit Obor, Jakarta, hal 11-13).
Sahabat dan gurunya, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melukiskan Chairil sebagai seorang yang “amat spontan, tidak tenggang-menenggang mengucapkan apa yang terasa dan terpikir kepadanya, sangat tidak tahu adat dalam tindakan dan kelakuannya” (STA, Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusasteraan, Pustaka Jaya, hal. 140). Sementara H.B. Jassin menggambarkan Chairil Anwar sebagai: “…seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tapi selalu berpikir, gerak-geriknya lambat seperti laku orang tidak peduli.” (Pamusuk Eneste, Mengenal Chairil Anwar, hal.14).
Seorang yang cuek seperti Chairil, berpenampilan asal-asalan, liar dan sering bertingkah sesuka hati, bukan berarti dia tidak memiliki pengalaman keagamaan yang khas. Setiap orang memiliki saat-saat tertentu tatkala ia merasa sangat dekat dengan Tuhannya. Demikian pula halnya Chairil Anwar. Namun tidak mungkinlah di sini untuk mengungkapkan pengalaman keagamaan Chairil Anwar seluruhnya. Selain membutuhkan literatur yang memadai, juga akan menghabiskan banyak halaman untuk menuliskannya. Di sini saya hanya akan mengungkap pengalaman keagamaan Chairil Anwar sebagaimana terungkap dalam beberapa sajaknya.
Sebagian pengamat sastra menilai Chairil Anwar mengadakan hubungan dengan Tuhan secara tidak lazim sebagaimana diungkapkan orang pada umumnya. Sikapnya terhadap Tuhan mencerminkan keangkuhan dan penantangan, persis sikapnya terhadap teman-temannya. Namun kita segera akan tahu bahwa sikap “angkuh dan menantangnya terhadap Tuhan” itu bukanlah sikap seorang yang berkuasa dan bangga dengan kekuasaannya, melainkan sikap seorang hamba yang lemah, yang menginginkan suasana yang berbeda. Biasanya orang mendatangi Tuhan dengan penuh takut dan harap, dengan segala ketundukan dan kepasrahan, tetapi Chairil Anwar bukan saja tidak mau datang menghadap Tuhan, malah Tuhanlah yang disuruh datang menghadap kepadanya.
Kuseru saja Dia sehingga datang juga Kami pun bermuka-muka. (Di Mesjid, 1943)
Dalam sajaknya yang lain, Chairil memang datang menghadap Tuhan, namun hal itu dilakukannya seolah-olah dengan terpaksa.
Baik, baik aku akan menghadap Dia menyerahkan diri dan segala dosa tapi jangan tentang lagi aku nanti darahku jadi beku (Kepada Peminta-minta)
Tema tentang kematian, ketakutan terhadap kematian, dan kepasrahan menghadapi kematian, merupakan sesuatu yang ada hubungannya dengan pengalaman keagamaan. Meskipun Chairil dikenal sebagai penyair yang penuh vitalitas, kebebasan, dan pemberontakan, seperti tercermin dalam sajak-sajak patriotismenya, sesungguhnya Chairil adalah seorang pesimis yang selalu dibayang-bayangi oleh pikiran tentang maut. Chairil senantiasa berulang-ulang menghadapi kematian sebagai sesuatu yang senantiasa mengancamnya, baik dalam percintaannya maupun dalam perjuangannya (STA, Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusasteraan, hal. 169). Terhadap maut Chairil tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tunduk patuh dan menyerah. Lenyap sudah segala kesombongan dan kelantangannya seperti terucap dalam sajak: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Dalam sajaknya Cemara Menderai-derai, Chairil berkata pasrah: Hidup hanya menunda kekalahan.
Seolah-olah dapat meramalkan kematiannya, menjelang akhir hidupnya Chairil menulis sebuah sajak tentang kematian dan kesiapannya memasuki pekuburan Karet (daerahnya yang akan datang). Dalam kamarnya yang sepi Chairil bersiap menunggu maut, sendiri, menggigil, dipesiang kelam dan angin lalu.
Yang Terampas dan Yang Putus
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku menggigir juga ruang dimana dia yang kuingin, malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi hanya tangan yang bergerak lantang. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku. 1949


Tanggal 23 April 1949, Chairil diopname di CDZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo) karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Rupanya penyakit Chairil terlalu parah sehingga tak bisa diobati lagi. Tanggal 28 April Chairil menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kesaksian Jassin mengenai hal itu demikian: “Chairil meninggal dengan berani dan tidak lupa kepada Tuhan. Meskipun dalam masa akhirnya dia mengigau karena panas badannya tinggi, pada saat dia insyaf akan dirinya dia selalu mengucap: Tuhanku, Tuhanku…,” mirip dengan bunyi sajaknya berikut ini (Pamusuk Eneste, Mengenal Chairil Anwar, hal. 20):

DOA 
Kepada pemeluk teguh Tuhanku dalam termangu aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara ke negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling
Inilah barangkali sajak religius karya Chairil yang paling indah dan dalam; yang menggambarkan penyerahan diri dan kepasrahan total kepada Tuhan. Chairil menyadari betapa susahnya Mengingat Kau penuh seluruh, bahkan tidak mungkin; diri kita yang berbatas berhadapan dengan Ia yang tak berbatas; waktu kita yang singkat, serta pikiran kita yang disarati berbagai macam hal, membuat kita bisa mengingat Tuhan hanya pada saat-saat tertentu saja. Chairil yang hilang bentuk, remuk, setelah mengembara ke negeri asing, mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan sandaran dan tujuan, pada akhirnya menyerah pasrah, kembali kepada Tuhan: Di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.(LS)

The Map of Love

Apa yang mesti dilakukan saat cinta datang menyerang? Anna Winterbourne dan Syarif Basya Al-Baroudi, tokoh utama novel The Map of Love, memilih untuk menyerah. Meski perbedaan keduanya begitu kontras – Anna seorang Inggris dan Kristen, Syarif seorang Mesir dan Islam, dan saat itu Inggris adalah penjajah Mesir – semua itu luruh. Demi cinta, Anna rela terasing dari pergaulannya dengan kalangan elit Inggris. Dan Syarif, sebagai seorang nasionalis yang menginginkan Inggris pergi, tetap mencintai Anna dengan sepenuh hati. Tetapi novel karya Ahdaf Soueif, perempuan pengarang asal Mesir, ini bukan semata kisah cinta. Dengan tambahan judul untuk edisi Indonesia “Sebuah Novel tentang Kisah Cinta yang Menggugah”, dan tampilan kover yang juga menggugah, anggapan demikian bisa diterima pada pandangan pertama. Apalagi novel ini diterbitkan di tengah menjamurnya karya-karya sastra bertema cinta dan seksualitas, baik yang bercorak Islami maupun sekular. Kisah cintanya sendiri lurus-lurus saja. Anna, yang tengah berlibur ke Mesir pada tahun 1900, bertemu dengan Syarif, saling jatuh cinta, lalu menikah, punya anak dan bahagia. Yang lebih menggugah pada novel ini, dan membuatnya pantas disebut sebagai novel besar, adalah karena kisah cinta itu digulirkan dalam konteks yang lebih luas, yakni sejarah dunia, khususnya Mesir, awal abad ke-20. Saat itu Mesir berada dalam jajahan Inggris, yang juga berbagi koloni dengan negara-negara Eropa lainnya di Afrika dan Asia. Sementara Zionis Israel mulai menggalang dukungan dari Eropa dan Amerika untuk mendirikan negara di tanah Palestina. Di lain pihak, ini adalah periode tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa terjajah, runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, dan lahirnya modernisasi di berbagai bidang, termasuk dalam pemikiran Islam yang di Mesir dipelopori oleh Muhammad Abduh. Kisah cinta itu bergelora dalam arus sejarah sedemikian erat sehingga boleh dikatakan The Map of Love adalah kisah cinta sekaligus dokumen sejarah karena banyak peristiwa dan tokoh nyata di dalamnya. Hal ini tentu berkat riset yang dilakukan pengarangnya selama dua tahun sebelum penulisan novel. Unsur sejarah dalam novel ini hampir serupa dengan yang terdapat pada magnum opus Pramoedya Ananta Toer, tetralogi Bumi Manusia, yang menceritakan Indonesia dalam era kebangkitan nasional. Tetapi potret Mesir awal abad ke-20 itu hanyalah satu latar dari dua kisah yang terdapat dalam novel berbentuk cerita berbingkai ini. Bingkainya adalah kisah kedua yang terjadi seratus tahun kemudian atau akhir abad ke-20. Kisah cinta itu kembali terulang, dengan latar waktu yang berubah. Kali ini antara Isabel Parkman, seorang jurnalis Amerika, dan Omar Al-Ghamrawi, musisi asal Mesir yang aktif berkampanye untuk pembebasan Palestina. Keduanya ternyata masih seketurunan dengan keluarga Syarif Al-Baroudi. Peta politik dunia telah bergeser, tetapi tak ada bedanya bagi Mesir, yang, meski telah merdeka, tetap berada di bawah pengaruh asing – yakni Amerika. Juga bagi Palestina yang kian kukuh dicengkram Israel. Dua kisah itu disajikan bergantian, selang-seling, seperti mengajak pembaca melakukan perjalanan bolak-balik antara awal dan akhir abad ke-20. Rentang waktu yang cukup panjang, seratus tahun, dan dicantumkannya bagan silsilah keluarga di halaman awal, sekilas mengingatkan kita pada novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez. Novel ini disusun dalam empat bagian dengan nama judul yang unik. Diawali dengan Sebuah Awal (210 hlm.) yang menceritakan latar belakang Anna dan perkenalannya dengan Syarif, serta perkenalan Isabel dengan Omar; dilanjutkan dengan Akhir Sebuah Awal (180 hlm.) yang mematangkan getar-getar cinta di antara dua pasangan itu; lalu Awal Sebuah Akhir (304 hlm.) untuk pernikahan dan kebahagiaan mereka; diakhiri dengan Sebuah Akhir (12 hlm.) sebagai penutup. Tiap bagian dipecah dalam bab-bab lebih pendek yang ditandai dengan angka. Terbit pada 1999, The Map of Love pernah masuk dalam daftar terpilih Booker Prize for Fiction. Ditulis dalam bahasa Inggris, Ahdaf yang orang Mesir itu begitu cermat melukiskan tempat, peristiwa, dan suasana batin tokoh-tokohnya, membuat kita seolah-olah hidup di dalamnya. Warna budaya Mesir pun terpelihara dengan tetap ditampilkannya ungkapan-ungkapan asli dalam bahasa Arab. Untuk itu pembaca akan dipandu oleh glosary di halaman akhir. Dengan bahasa yang jernih mengalir, didukung oleh kualitas terjemahan yang cukup sempurna, ketebalan novel ini tidak akan terasa sebagai beban, malah menjadi petualangan batin yang mengasikkan. Nama Ahdaf Soueif relatif belum dikenal di kalangan publik sastra Indonesia. Dibandingkan pendahulu senegaranya semisal Najib Mahfudz atau Nawal El-Saadawi, mungkin novel ini adalah karya pertamanya yang diindonesiakan. Lahir di Mesir pada tahun 1950, Ahdaf meraih gelar doktor dalam bidang linguistik di Lancaster University, Inggris. Ia mengajar di Cairo University dan University of King Saud, dan sering menulis artikel di surat kabar dan majalah internasional. Buku pertamanya, Aisya (kumpulan cerpen, 1983), masuk dalam daftar terpilih Guardian Fiction Prize. Tentu bukan kebetulan jika Ahdaf menakdirkan cinta pada tokoh-tokoh dengan latar belakang yang bukan hanya berbeda, tetapi berlawanan. Keinggrisan Anna dan persoalan kolonialisasi memang menjadi pikiran serius, namun hal itu tidak menghalangi keduanya untuk menyatukan cinta. Perbedaan agama, Kristen dan Islam yang sepanjang sejarahnya dipenuhi pertikaian, tidak dipersoalkan sama sekali, dan keduanya tidak pula saling mempengaruhi. Pada kisah cinta kedua antara Isabel dan Omar pun demikian. Lewat The Map of Love, seolah Ahdaf ingin mengatakan bahwa cinta lebih tinggi dari kategori apapun. Cinta mengalahkan segalanya, termasuk kepentingan yang bertentangan. Seandainya semua orang memilih jalan cinta, tentu takkan ada penjajahan dan penindasan terhadap sesama. Yang menarik, semua persoalan itu dikemukakan dari sudut pandang perempuan. Tokoh-tokoh penting dalam novel ini umumnya perempuan (Anna, Layla, Isabel, Amal). Namun berbeda dengan tokoh perempuan dalam novel-novel Nawal El-Saadawi yang bereaksi terhadap sistem patriarki secara frontal, perempuan dalam novel Ahdaf adalah sosok-sosok lembut yang menanggapi ketidakadilan dunia secara halus. Bahkan terhadap cinta, reaksinya adalah penyerahan. Tetapi jangan salah, penyerahan dalam cinta bukanlah kelemahan, melainkan sebentuk kekuatan yang mendorong daya hidup dan perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Dengan pemihakan yang gigih terhadap bahasa cinta, The Map of Love akan menjadi oase yang menyejukkan di tengah membudayanya kekerasan yang oleh sebagian kelompok dianggap sebagai solusi segala persoalan.[]

Thursday, April 07, 2016

FILM KSB

Ini adalah sebuah film dokumenter KSB yang aku ikut serta dalam pembuatannya.

PUISIKU - apa kabar kekasih - TIDAK DISUKAI MAS WILLY...:)

APA KABAR KEKASIH. Setelah kutempuh perjalanan yang tak kukenal rimbanya Airmata berbulu api memang benar sedang menjadi hujan Ada yang ingin kutahu Bagaimanakah pohon istighfarku Sudah lama tak pernah kujaga Rumbai-rumbai kesombongan sempoyongan di muka angin yang berkacak pinggang membuatku menunggu daun-daun yang jatuh Barangkali Di sana ada takdir yang ingin berucap salam: apa kabar kekasih? Lintang Sugianto Liputan6.com, Jakarta: Penulis Lintang Sugianto meluncurkan buku kumpulan puisi di Jakarta, Selasa (28/3). Ada 47 puisi bertema sosial, terutama mengenai perempuan dan segala batasan-batasan yang ada di masyarakat, dalam buku tersebut. Penulis Novel Matahari di Atas Gilli ini, menulis puisi-puisi itu sejak tahun 1997 hingga sekarang. Turut hadir dalam acara peluncuran buku tersebut adalah W.S. Rendra. Si Burung Merak--panggilan akrab Rendra--membacakan dua puisi karya Lintang Sugianto yang berjudul Di Tepi Tembulan dan Aku Sudah Mandi. Meski sudah jarang tampil, penampilan Rendra memukau puluhan orang yang hadir dalam acara itu. Selain Rendra, aktor kawakan Deddy Mizwar juga ikut membacakan salah satu puisi.(BOG/Erlangga Wisnuaji dan Yuli Sasmito)

Bahagia adalah....

Bagiku kebahagiaan adalah ketika aku dapat menjadi berarti atau bermanfaaf bagi siapapun. Seringkali, aku tak bisa berbicara lebih pandai untuk mengungkap kepada siapapun ketika mereka bertanya, apakah kamu bahagia lintang? Padahal aku menengok dicatatan harianku, aku belum melakukan apapun yang membuat orang lain bahagia karena kehadiranku. Jadi aku pun memburu waktu untuk terus menerus membahagiakan siapapun, tentu saja agar aku merasa bahagia.

Matahari Di atas Gilli

Lantas aku pun berterimakasih kepada Tuhan atas kebisaan yang diberikan kepadaku untuk menulisnya. Alhamdulillah. Barangkali mengenang proses pembuatannya - meskipun telah bertahun lamanya - aku tetap menangis.

Skenario Film pertamaku

Aku ingin mengenang proses pembuatan film ini. Batas adalah pengalaman pertamaku untuk menulis ide cerita berikut skenarionya. Bagiku itu tidak mudah, namun aku tahu arti sebuah kesungguhan dan kejujuran. Meskipun pada akhirnya, aku juga mengerti sebuah arti MENGALAH, pada proses pembuatannya. Alhamdulillah. Sinopsis Film: Batas ( 2011 ) »
Batas
Jaleshwari, dengan ambisi dan kepercayaan penuh, mengajukan diri untuk mengambil tanggung-jawab memperbaiki kinerja program corporate social responsibility (CSR) bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan.Dia menyanggupi masuk ke daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan dan menjanjikan dalam dua minggu ketidakjelasan itu dapat diatasi. Ternyata perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri.Mereka memiliki titik-pandang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan.Mereka hidup dengan kesadaran wawasan budaya Dayak yang tidak terpisahkan oleh batas politik. Keadan ini membawa Jaleshwari ke dalam situasi pelik.Konflik batin terjadi ketika dia terperangkap pada masalah kemanusiaan yang jauh lebih menarik. Jaleshwari berada dalam tapal batas pilihan.Karisma hutan dan pola hidup masyarakat menyadarkan dirinya bahwa upaya memperbaiki kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan adat setempat. Jaleshwari sangat memahami Adeus, guru yang dipercaya menjalankan program pendidikan, menjadi apatis, karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta, tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Mereka lebih memilih jadi tenaga kerja yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama Otik. Salah satu korbannya adalah Ubuh, TKI yang melarikan diri dari negeri tetangga.Oleh masyarakat Dayak di sana,Ubuh tak hanya beroleh perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan. Tragedi kemanusiaan ini mengubah pemikiran Jaleshwari. Panglima Adayak, kepala suku, menuntunnya memahami "Bahasa Hutan". Langkah Jaleshwari sangat membantu Arif, petugas negara yang dalam penyamaran dan ditugaskan di wilayah perbatasan.
Kru Film dan Pemain Produser Marcella Zalianty Sutradara Rudi Soedjarwo Penulis Slamet Rahardjo Djarot, Lintang Sugianto Pemain Marcella Zalianty, Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer, Ardina Rasti, Otiq Pakis, Norman Akyuwen, Marcell Domits, Alifyandra, Tetty Liz Indriati Jenis Film Drama Tanggal Rilis: 11 May 2011 Negara Indonesia Produksi Keana Productions Durasi 115 menit

Monday, July 13, 2015

My Every Little Step

Novel Biografi ini, aku tulis sebagai bentuk kekagumanku kepada seorang Bupati Kabupaten Sumbara Barat atas totalitasnya, kepada masyarakatnya, juga kepada perkembangan budaya, ekonomi serta kesejahteraan masyarakatnya. Namun yang membuatku bergairah untuk menulis novel ini, adalah jiwa pemimpinnya yang terbentuk sejak ia kecil. Ia menyukai Soekarno dan mengagumi Buya Hamka. Ibunya meninggal sejak ia beruisia 13 tahun, dari sanalah cerita hidupnya dimulai. Ia menjadi pengganti Ibu bagi keempat adik-adiknya. Perjalanan hidupnya ialah implementasi dari pencarian kasih sayang. Namun, ia berhasil menemukan rahasia hidup yang pasti, bahwa ia harus memberikan kasih sayang itu sendiri, sebelum ia mendapatkannya. Di setiap tikungan hidupnya - di Indonesia, maupun di Amerika - Ia memberikan kasihnya kepada semua orang, termasuk kepada seorang laki-laki mualaf yang ia temui ketika ia berada di Boston. Perempuan, adalah makhluk indah yang ia kagumi dan ia simpan erat di dalam hatinya. Ia selalu mengatakan kepada semua orang, bahwa perempuan adalah mawar-mawar yang lahir dari sebuah wewangian ratu mawar sejati, yaitu ibunya.

WORKSHOP PEMBERDAYAAN GURU MELALUI MENULIS SASTRA & PEMBUATAN FILM PUISI NTB - 2015

Workshop Pemberdayaan Guru melalui Menulis Sastra dan Pembuatan Film Puisi berfungsi sebagai lokomotif yang mengantar guru ke masa depan; terwujudnya GURU sebagai penentu sumber daya Pronpinsi Nusa Tenggara Barat, dan sebagai investasi Propinsi Nusa Tenggara Barat, yang memiliki potensi dan kualitas sebagai model keteladan (role model) atau unsure/generasi pengubah, yang dapat menumbuhkan semangat kolektif lingkungan dan pengarah masyarakat di tingkat Kabupaten, Kota, serta masyarakat Propinsi NTB ke arah pembangunan bangsa dan Negara Indonesia. Pada Workshop menulis sastra ini, aku - sebagai trainer - merasa kagum kepada Gubernur NTB yang sangat peduli terhadap kepentingan fungsi sastra bagi perkembangan pribadi dan mental semua warganya. Tidak berlebihan bagiku, jika aku sangat menghormati
intuisi beliau untuk melahirkan publik sastra, satu-satunya propinsi di Indonesia. Salut!

AINADILAH

Disini embun dapat bercerita tentang perbincangan atap-atap rumah dan matahari esok pagi. Panas sekali, ozon telah terkorupsi, begitu selalu bisiknya. Embun itu dengan benar menceritakan tentang sekerat roti dimeja tuan besar, yang selalu merintih semalaman mengenang nasibnya, sebab basi tak tersentuh. Tetapi sekarung jagung disudut desa yang jauh barangkali lebih berarti didalam perut para petani. Ainadilah… Disini embun pun dapat bercerita tentang sekelompok bocah di tepi Aceh atau di sudut-sudut Jogja, bahkan di tengah-tengah lumpur panas Sidoarjo Mereka bertanya, kemana ibu kami? Kau tahu Ainadilah, embun itu menjawab atas nama bumi yang seketika menjadi yatim piatu, bahwa ibu mereka telah menjelma menjadi kembang-kembang ungu yang menyalip awan-awan kelabu. Ainadilah… Dimanapun kau, tersenyumlah… Sebab disini aku menyaksikan embun itu tak memiliki usia yang panjang. Lintang Sugianto Kuala Lumpur, April 2006 (Puisi ini, aku tulis untuk sahabatku Ainadilah)

Sunday, July 12, 2015

ANAK KECIL DAN PESAWATNYA

Selamat malam tuan… Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa Bolehkah ia masuk kedalam ruangan hatimu Ia tak lagi bertanah air, tuan Sebab kebun-kebun moral telah menjadi siasat atas nama bencana-bencana yang bersusul-susulan. Ia terus menatap langit, tuan Dan jangan katakan kau sudah membalut lukanya Sebab pesawat pertama yang terbuat dari gelang-gelang emas leluhurnya itu, selalu membuat perutnya semakin membusung mengandung murka Ia terus merintih dan siap melahirkan ,tuan Ia hanya ingin mawar putih kesukaan ibunya di serahkan Karena kebun-kebun norma telah hangus sejak tuan duduk disini. Sejak berlakunya jam malam bagi kota itu Sejak senjata-senjata menggertak kota itu Sejak ia tahu, ia lahir dari hasil pemerkosaan itu Selamat malam tuan Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa Bangunlah… Nyalakan lampu ruangan hatimu Sebab rencong telah ditangannya Lintang Sugianto Aceh, maret 2005