Monday, July 13, 2015
My Every Little Step
Novel Biografi ini, aku tulis sebagai bentuk kekagumanku kepada seorang Bupati Kabupaten Sumbara Barat atas totalitasnya, kepada masyarakatnya, juga kepada perkembangan budaya, ekonomi serta kesejahteraan masyarakatnya. Namun yang membuatku bergairah untuk menulis novel ini, adalah jiwa pemimpinnya yang terbentuk sejak ia kecil. Ia menyukai Soekarno dan mengagumi Buya Hamka.
Ibunya meninggal sejak ia beruisia 13 tahun, dari sanalah cerita hidupnya dimulai. Ia menjadi pengganti Ibu bagi keempat adik-adiknya. Perjalanan hidupnya ialah implementasi dari pencarian kasih sayang. Namun, ia berhasil menemukan rahasia hidup yang pasti, bahwa ia harus memberikan kasih sayang itu sendiri, sebelum ia mendapatkannya.
Di setiap tikungan hidupnya - di Indonesia, maupun di Amerika - Ia memberikan kasihnya kepada semua orang, termasuk kepada seorang laki-laki mualaf yang ia temui ketika ia berada di Boston.
Perempuan, adalah makhluk indah yang ia kagumi dan ia simpan erat di dalam hatinya. Ia selalu mengatakan kepada semua orang, bahwa perempuan adalah mawar-mawar yang lahir dari sebuah wewangian ratu mawar sejati, yaitu ibunya.
WORKSHOP PEMBERDAYAAN GURU MELALUI MENULIS SASTRA & PEMBUATAN FILM PUISI NTB - 2015
Workshop Pemberdayaan Guru melalui Menulis Sastra dan Pembuatan Film Puisi berfungsi sebagai lokomotif yang mengantar guru ke masa depan; terwujudnya GURU sebagai penentu sumber daya Pronpinsi Nusa Tenggara Barat, dan sebagai investasi Propinsi Nusa Tenggara Barat, yang memiliki potensi dan kualitas sebagai model keteladan (role model) atau unsure/generasi pengubah, yang dapat menumbuhkan semangat kolektif lingkungan dan pengarah masyarakat di tingkat Kabupaten, Kota, serta masyarakat Propinsi NTB ke arah pembangunan bangsa dan Negara Indonesia.
Pada Workshop menulis sastra ini, aku - sebagai trainer - merasa kagum kepada Gubernur NTB yang sangat peduli terhadap kepentingan fungsi sastra bagi perkembangan pribadi dan mental semua warganya. Tidak berlebihan bagiku, jika aku sangat menghormati intuisi beliau untuk melahirkan publik sastra, satu-satunya propinsi di Indonesia. Salut!
AINADILAH
Disini embun dapat bercerita tentang perbincangan atap-atap rumah dan matahari esok pagi.
Panas sekali, ozon telah terkorupsi, begitu selalu bisiknya.
Embun itu dengan benar menceritakan tentang sekerat roti dimeja tuan besar, yang selalu merintih semalaman mengenang nasibnya, sebab basi tak tersentuh. Tetapi sekarung jagung disudut desa yang jauh barangkali lebih berarti didalam perut para petani.
Ainadilah…
Disini embun pun dapat bercerita tentang sekelompok bocah di tepi Aceh atau di sudut-sudut Jogja, bahkan di tengah-tengah lumpur panas Sidoarjo
Mereka bertanya, kemana ibu kami?
Kau tahu Ainadilah,
embun itu menjawab atas nama bumi yang seketika menjadi yatim piatu, bahwa ibu mereka telah menjelma menjadi kembang-kembang ungu yang menyalip awan-awan kelabu.
Ainadilah…
Dimanapun kau, tersenyumlah…
Sebab disini aku menyaksikan embun itu tak memiliki usia yang panjang.
Lintang Sugianto
Kuala Lumpur, April 2006
(Puisi ini, aku tulis untuk sahabatku Ainadilah)
Sunday, July 12, 2015
ANAK KECIL DAN PESAWATNYA
Selamat malam tuan…
Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa
Bolehkah ia masuk kedalam ruangan hatimu
Ia tak lagi bertanah air, tuan
Sebab kebun-kebun moral telah menjadi siasat atas nama bencana-bencana yang bersusul-susulan.
Ia terus menatap langit, tuan
Dan jangan katakan kau sudah membalut lukanya
Sebab pesawat pertama yang terbuat dari gelang-gelang emas leluhurnya itu, selalu membuat perutnya semakin membusung mengandung murka
Ia terus merintih dan siap melahirkan ,tuan
Ia hanya ingin mawar putih kesukaan ibunya di serahkan
Karena kebun-kebun norma telah hangus sejak tuan duduk disini.
Sejak berlakunya jam malam bagi kota itu
Sejak senjata-senjata menggertak kota itu
Sejak ia tahu, ia lahir dari hasil pemerkosaan itu
Selamat malam tuan
Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa
Bangunlah…
Nyalakan lampu ruangan hatimu
Sebab rencong telah ditangannya
Lintang Sugianto
Aceh, maret 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

